Kota Sungaipenuh sebagai Kota Sentral Batik Incung

Nandia Pitri

Abstract


Penelitian ini menjelaskan hubungan antara batik incung dengan Kota Sungaipenuh. Kota Sungaipenuh merupakan salah satu kota penghasil batik di Indonesia. Kota Sungaipenuh sebagai pusat pengembangan kerajinan batik incung. Batik incung di Kota Sungaipenuh digunakan oleh masyarakat sebagai aset ekonomi dan identitas budaya. Batik incung adalah batik khas Kota Sungaipenuh dengan menjadikan aksara incung (aksara Kerinci kuno) sebagai motif batiknya. Adanya penggunaan motif aksara incung menjadikan batik incung di Kota Sungaipenuh memiliki keunikan dengan mengembangkan kearifan lokal masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan masyarakat Kota Sungaipenuh memiliki rasa bangga terhadap batik sebagai sesuatu yang indah untuk dijadikan sebagai karya seni. Sehingga, mereka memiliki kewajiban untuk membangkitkan serta mengembangkan batik incung. Selain itu, motif tulisan Kota Sungaipenuh yang dituliskan dalam aksara incung juga dijadikan sebagai motif batik di daerah ini. Hal ini juga disebabkan karena Kota Sungaipenuh menjadi sentral atau pusat pengembangan batik incung. Pengembangan motif pada batik incung di Kota Sungaipenuh juga berkaitan dengan adanya budaya setempat, karena generasi muda belum mengenal aksara incung secara keseluruhan, maka dijadikan sebagai motif batik untuk memperkenalkan kembali aksara incung kepada masyarakat setempat terkhususnya kepada generasi muda.


Keywords


sentral; batik; incung; kota sungaipenuh

References


Desi, S. (2018, September 20). Pengrajin Batik. (N. Pitri, Pewawancara)

Djakfar, I., & Indra, I. (2001). Menguak Tabir Prsejarah di Alam Kerinci. Sungaipenuh: Pemerintah Kabupaten Kerinci.

Ekspres, J. (1999, Juni 07). Karang Setio Batik Kerinci yang Tetap Eksis. Jambi, Jambi, Indonesia: Jambi Ekspres.

Gottschalk, L. (2007). Mengerti Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Gusmiarti. (2018, Juli 28). Pengrajin Batik. (N. Pitri, Pewawancara)

Jaya, E. (2018, Agustus 24). Peilik Sanggar Batik Karang Setio. (N. Pitri, Pewawancara)

Kebudayaan, D. P. (2003). Sastra Incung Kerinci. Sungaipenuh: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Kompas. (19994, Maret 13). Ida Maryanti: Memindahkan ‘Encong’ dan Kerinci ke atas Kain Mori. Jambi, Jambi, Indonesia: Kompas.

Kozok, U. (2006). Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua. Jakarta: Yayasan Obor.

Maryanti, I. (2018, Mei 28). Rumusan Awal Motif Incung. (N. Pitri, Pewawancara)

Musman, A., & Arini, A. B. (2011). Batik: Warisan Adiluhung Nusantara. Yogyakarta: Andi.

Sjamsuddin, H. (2007). Metodologi Sejarah . Yogyakarta: Ombak.

Veronika, M. (2015). Administrasi Pemerintahan Daerah: Kota Sungaipenuh pada Masa Otonomi Daerah (2008-2014). Padang: Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Konsentrasi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang.

Yusnita, E. (2018, Mei 15). Pemilik Sanggar Batik Incung. (N. Pitri, Pewawancara)

Zakaria, I., & Syaputra, D. (2017). Khazanah Aksara Incung. Sungaipenuh: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sungaipenuh.

Zed, M. (1999). Metodologi Sejarah. Padang: Universitas Negeri Padang.

Zubaidah. (2018, Juli 28). Pengrajin Batik. (n. Pitri, Pewawancara)

Zubaidah. (2018, Juli 28). Perempuan Pembatik. (N. Pitri, Pewawancara)




DOI: http://dx.doi.org/10.24127/hj.v8i1.2439

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

HISTORIA :Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah(p-ISSN: 2337-4713,e-ISSN: 2442-8728) Jl. Ki Hajar Dewantara, No. 116 Metro Timur, Kota Metro, Lampung, Indonesia 

phone (+6285200847481) (historiaummetro@gmail.com)

 

Creative Commons License
HISTORIA by Pendidikan Sejarah UM Metro is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

HISTORIA :Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah

 

 

Historia Stats

Free counters!