KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS MENGGUNAKAN MODEL GENERATIVE LEARNING DAN CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, EXTENDING (CORE)

Agustiani Putri, Dadan Sumardani, Wardani Rahayu, Mimi Nur Hajizah

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang belajar menggunakan model generative learning dan connecting, organizing, reflecting, extending (CORE). Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen semu yang dilakukan pada kelas XI SMA Negeri 12 Jakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Kemampuan berpikir kritis matematis siswa diukur dengan tes yang dibuat sesuai indikator keterampilan berpikir kritis matematis pada materi integral sebanyak 5 soal yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Kedua kelas eksperimen yang dipilih berasal dari populasi yang berdistribusi normal, memiliki varians homogen dan mempunyai kesamaan rata-rata. Berdasarkan hasil penelitian, kelas eksperimen I dengan model generative learning dan kelas eksperimen II dengan model CORE berdistribusi normal dan memiliki varians yang sama. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji-t dan taraf signifikansi Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh  dan  sehingga , maka  ditolak. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang belajar dengan model generative learninglebih tinggi daripada model CORE.

Abstract

The objective of this study was to compare in mathematical critical thinking skills of students who learn to use the generative learning and CORE models. The research method applied is a quasi-experimental method carried out in class XI SMAN 12 Jakarta. The sampling technique in this study adopted purposive sampling. Students' mathematical critical thinking skills were measured by tests made according to indicators of mathematical critical thinking skills of the integral material as many as 5 questions that have been tested through validity and reliability. The two experimental classes selected came from populations that were normally distributed,  had homogeneous variances and had similarities on average. Based on the results of the study, the experimental class I (generative learning model) and experimental class II (CORE model) were normally distributed and had the same variance. Hypothesis testing is done by using t-test statistics with a significance level  Based on the results of calculations, obtained  dan  therefore , then  is rejected. Therefore, it can be concluded that the mathematical critical thinking skill of students taught with the generative learning model is higher than the students taught using the CORE model.


Keywords


CORE; critical thinking skill; generative learning

References


Akhyar, M. K. (2019). Analisis HOTS pada Soal UNBK Terhadap Hasil UN Matematika SMA di Indonesia. Jurnal Faktor M, 1(2), 143–159.

Asma, N. (2018). Pengaruh Model CORE terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Disposisi Matematis Ditinjau dari Kemampuan Awal Matematika Siswa SMA Negeri di Jakarta Timur. JJPM, 11(1), 187–196.

Asma, N., Siregar, R., & Hakim, L. E. (2018). Pengaruh Model Pembelajaran CORE Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Disposisi Matematis Ditinjau dari Kemampuan Awal Matematika Siswa SMA Negeri di Jakarta Timur. JJPM, 11(1), 187–196.

Chistella, C., & Soekamto, H. (2017). A Comparison between Generative Learning Model and CORE Learning Model: The Influence on Learners’ Higher Order Thinking Skill. IOSR Journal of Research & Method in Education, 07(02), 48–52.

Daniel, F. (2017). Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Implementasi Project Based Learning (PJBL) Berpendekatan Saintifik. JPMI (Jurnal Pendidikan Matematika Indonesia), 1(1), 7.

Muhali. (2019). Pembelajaran Inovatif Abad Ke-21. Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmu Pendidikan: E-Saintika, 3(2), 25–50.

Nugroho, P. B. (2017). Scaffolding Meningkatkan Berpikir Kritis Pembelajaran Matematika. Jurnal Silogisme: Kajian Ilmu Matematika dan Pembelajarannya, 2(1), 15–21.

Permendikbud. (2016). Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Jakarta.

Permendiknas. (2006). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 tentang Tujuan Pendidikan. Jakarta

Putri, M. D., & Arifin, R. R. M. (2017). Pengaruh Penerapan Model CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending) Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Sekolah Dasar. Antologi UPI, 5(1), 111–123.

Rabani. (2014). Perbedaan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMP yang Diajar dengan Model Pembelajaran Generatif dan Pembelajaran Langsung. Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika, 2(3), 77–88.

Salsabila, E., Rahayu, W., Kharis, S. A., & Putri, A. (2019). Analysis of Mathematical Literacy on Students’ Metacognition in Conic Section Material. Journal of Physics: Conference Series, 1417(1), 1–8.

Simanjuntak, P., & Suharyati. (2018). Pengaruh Model Pembelajaran Generatif Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa. Gamaedu, 3(4), 52–61.

Suhartini, S., & Martyanti, A. (2017). Kemampuan Berpikir Kritis pada Pembelajaran Geometri Berbasis Etnomatematika. Jurnal Gantang, 2(2), 105–111.

Suwanjal, A. (2016). Pengaruh Penerapan Pendekatan Kontekstual Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMP. Jurnal Aksioma, 5(1), 61–67.

Tyas, D. K. F. N., & Manurung, M. M. H. (2018). Penguasaan Materi Matematika SMU Mahasiswa Semester 1 Program Studi Pendidikan Matematika. Jurnal Ilmiah Mandala Education, 4(1), 105–109.




DOI: http://dx.doi.org/10.24127/ajpm.v9i1.2617

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexing by: