Abstract168 Views





ARTICLES

Efektivitas Pelatihan Psychological First Aid (PFA) Perempuan Korban Pelecehan Seksual Terhadap Empati Mahasiswa Psikologi Unibi


Dyah Rachman Kuswartanti1*

[1] Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia, Indonesia.

Abstract

Sexual harassment against women is increasing. Data from the National Commission of Violence Against Women (Komnas Perempuan) shows that the number of sexual violence increased by 6% in 2019. And the most reported was Cyber Gender-Based Violence (KBGS). Most women feel ashamed and find it difficult to report sexual harassment because there are still many views Indonesian people who view this as taboo. Victims of Sexual harassment need first aid to cope with their experience as a victim that could trigger a traumatic experience. UNIBI psychology students are expected to have good empathy in helping people because they are considered to be more knowledge and skill. This research examined the empathy of UNIBI psychology students when they know or see sexual harassment before (pre-test) and after (post-test) doing Psychological First Aid (PFA). In this research, researchers used the one-group pre-test post-test design experimental method to see differences in empathy before and after treatment. The measurement of empathy in this study used the Interpersonal Reactivity Index (IRI) empathy scale with 18 respondents. Analysis of the research data using paired samples t-test analysis with a significance result of 0.325; p > 0.05. these results indicate that giving Psychological First Aid (PFA) to female victims of sexual harassment is not effective in increasing the empathy of UNIBI psychology students.

Keywords: psychological first aid (PFA); sexual harassment; empathy

 

Dari tahun ke tahun tindak pelecehan seksual terhadap perempuan semakin meningkat. Data yang diperoleh dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan bahwa jumlah kasus kekerasan seksual mengalami peningkatan sebesar 6 % di tahun 2019. Kekerasan seksual yang paling banyak diadukan adalah Kekerasan Berbasis Gender Siber (KBGS). Kebanyakan perempuan merasa malu dan merasa sulit untuk melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya karena masih banyak pandangan masyarakat Indonesia yang memandang hal tersebut sebagai stuatu hal yang tabu. Korban pelecehan seksual membutuhkan pertolongan pertama untuk mengatasi kejadian yang mampu memicu pengalaman traumatik. Sebagai mahasiswa psikologi UNIBI, diharapkan memiliki empati yang baik dalam membantu orang yang membutuhkan karena dianggap lebih paham dan terampil untuk mengatasinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat empati mahasiswa psikologi UNIBI ketika mengetahui atau melihat pelecehan seksual sebelum (pre-test) dan setelah (post-test) melakukan Psychological First Aid (PFA). Dalam mencapai tujuan penelitian ini, peneliti menggunakan metode eksperimen the one group pretest-posttest design untuk melihat perbedaan empati sebelum dan setelah dilakukannya treatment. Pengukuran empati dalam penelitin ini menggunakan skala empati Interpersonal Reactivity Index (IRI) dengan sampel dalam penelitian berjumlah 18 orang mahasiswa Psikologi. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis paired sample t-test dengan hasil signifikansi sebesar 0.325; p > 0.05. Hasil tersebut menunjukan bahwa pemberian Psychological First Aid (PFA) perempuan korban pelecehan seksual tidak efektif meningkatkan empati mahasiswa psikologi UNIBI.

Kata kunci: psychological first aid (PFA); perempuan; pelecehan sekual, empati

Keywords

psychological first aid (PFA); sexual harassment; empathy

Article Info

Artikel History: Submitted: 2021-09-16 | Published: 2021-12-30
DOI: http://dx.doi.org/10.24127/gdn.v11i3.4241
Vol 11, No 3 (2021) Page:

(*) Corresponding Author: Dyah Rachman Kuswartanti, Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia, Indonesia, Email: dyah.rachman.psi@gmail.com